Detail Berita

Beranda / Berita / Detail Berita

SMA Negeri 3 Pangkalpinang mengadakan kunjungan ke Kampung Adat Gebong Memarong

Senin, 4 Desember 2023 10:57 WIB 0 Komentar 256

Dalam usaha untuk memperkaya profil pelajar Pancasila yang berkebhinekaan global, SMA Negeri 3 Pangkalpinang mengadakan kunjungan ke Kampung Adat Gebong Memarong yang berada di Dusun Air Abik, Desa Gunung Muda, Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Kamis (30/11/23).

Kegiatan yang diikuti oleh 163 siswa dan 30 guru ini bukan sekadar berkunjung, melainkan merupakan belajar langsung dari warisan kekayaan budaya lokal, sebuah upaya signifikan dalam menciptakan generasi yang berciri Pancasila, menciptakan karakter yang berperilaku berdasar nilai-nilai Pancasila di era global ini.

Pemangku Adat Orang Lom menjadi narasumber utama dalam kunjungan itu, menyajikan berbagai cerita dan sejarah Orang Lom yang langka dan berharga. Lom dimaknai sebagai kelompok masyarakat yang belum mengenal agama (Agama yang diakui negara). Sebagai kelompok Suku Melayu Bangka yang belum mengenal agama yang diakui negara, Orang Lom telah mengekalkan adat dan budaya mereka yang bergantung pada penghargaan terhadap alam. Mereka percaya bahwa Dusun ini sebagai titik awal kedatangan leluhur Orang Lom sekian abad lalu ke Pulau Bangka. Selain itu, Orang Lom dipercaya keturunan dari Akek Antak (Kakek Antak), legenda di Pulau Bangka. Akek Antak merupakan legenda terkenal di Pulau Bangka, kebenaran sosoknya dipercaya oleh Orang Lom. Masyarakat Orang Lom meyakini bahwa gunung, hutan, sungai, bumi, langit, dan binatang adalah bagian dari alam semesta, dan mereka harus menghargai setiap bagian dari alam semesta.

Orang Lom bukan hanya kelompok yang melestarikan adat dan budaya lama. Mereka seharusnya dipahami sebagai bukti hidup dari peradaban luhur masyarakat Bangka, yang memiliki hubungan yang harmonis dengan alam. Apresiasi mereka terhadap alam merupakan contoh nyata dari kearifan lokal yang seharusnya dipelajari dan diterapkan oleh generasi Z.

Dalam konteks diskursus nilai-nilai kearifan lokal di Indonesia, Orang Lom memiliki posisi yang unik dan penting. Sebagai suku yang memegang teguh kepercayaan leluhurnya, mereka telah menghargai dan memelihara lingkungan alami sekitarnya dengan cara yang khas dan mengesankan. Tradisi Nujuh Jerami menjadi medium nyata dalam ekspresi penghargaan mereka terhadap alam.

Mereka menyelenggarakan Nujuh Jerami tersebut setiap tahun. Hari itu bertepatan dengan tanggal 13 bulan 3 dalam perhitungan yang berdasarkan pada kalender Cina atau penanggalan Imlek. Kalender Cina menggunakan perhitungan berdasarkan peredaran bulan (lunar).

Nujuh Jerami dilaksanakan di umah memarong yang dibangun secara swadaya warga setempat pada 2019. Umah memarong tersebut dibangun kembali (rekonstruksi) dengan berdasarkan pada pengetahuan dan ingatan mereka terkait dengan rumah tradisional orang Lom dahulu. Umah memarong tersebut kini menjadi simbol identitas keberadaan orang Lom.

Nujuh Jerami merupakan upacara terbesar bagi orang Air Abik. Nujuh Jerami dilaksanakan sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen yang diperolehnya. Dan berharap semoga hasil panen tahun depan akan berlimpah dan cukup menghidupi keluarga mereka.

Perwujudan adat Orang Lom dalam memelihara dan menghargai alam, khususnya melalui Nujuh Jerami, menawarkan wacana yang sangat penting tentang bagaimana hubungan manusia dan alam seharusnya; sebuah hubungan yang diwarnai oleh rasa hormat, penghargaan dan penghormatan. Ini adalah model yang dapat diterapkan oleh semua masyarakat, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia, dalam upaya kita menuju keberlanjutan lingkungan global.

Pengajaran budaya Lom tidak hanya memberikan pemahaman baru tentang keanekaragaman budaya dan kearifan lokal Indonesia, tetapi juga memberikan pelajaran berharga tentang hubungan harmonis antara manusia dan alam. Yang perlu ditekankan di sini adalah bahwa Orang Lom seharusnya dipahami sebagai jejak peradaban luhur masyarakat Bangka, yang arif dengan alam, bukan dipahami sebagai masyarakat tertinggal atau terbelakang.

Inilah tugas yang dihadapi oleh guru dan siswa SMA Negeri 3 Pangkalpinang, untuk belajar dari Orang Lom ini dan menerapkan kearifan lokal dalam perilaku mereka sehari-hari, mewujudkan generasi yang kuat dan berpengetahuan dengan nilai-nilai Pancasila. Maka dari itu, kunjungan ini tidak hanya menjadi aksi simbolis, namun juga menjadi langkah ikonis dalam mewujudkan generasi Z yang penuh dengan nilai-nilai Pancasila dan kearifan lokal. Dengan demikian, SMA Negeri 3 Pangkalpinang telah berkontribusi dalam membangun karakter Pancasila siswanya, sekaligus memberdayakan Generasi Z melalui manifestasi kearifan lokal. (Nurfitri)


Bagikan ke:

Apa Reaksi Anda?

0


Komentar (0)

Tambah Komentar

Agenda Terbaru
Prestasi Terbaru